Mari Mendaftar PIES dan Rasakan Keseruannya

(Sebelas Catatan Menarik di Pertengahan Program)

Teman-teman, telah dibuka pendaftaran beasiswa Partnership of Islamic Education Scholarship (PIES) untuk keberangkatan tahun 2019. PIES adalah beasiswa yang saat ini sedang aku nikmati, yang terselenggara atas kerjasama Kementerian Agama dengan The Australian National University Canberra. Oleh karena itu, yang dapat mendaftar program ini adalah dosen-dosen yang berada dalam naungan Kementerian Agama, baik mengabdi di perguruan tinggi Keislaman negeri maupun swasta, tapi maaf ya, ada pengecualian, dosen-dosen dari UIN Yogyakarta, UIN Malang dan UIN Jakarta tidak diperkenankan mendaftar program ini.

Syarat khusus yang harus dipenuhi adalah sedang studi S3 di Indonesia, perguruan tingginya bebas, dan sedang dalam proses menulis disertasi. Adapun bidang yang dikaji adalah bidang antropologi, sejarah, kesenian, gender, pendidikan Islam, politik, kebudayaan atau isu sosial kontemporer, mampu berbicara dan menulis dalam Bahasa Inggris, tapi tidak harus sangat mahir.

Sebagai peserta program ini, aku sangat mendorong teman-teman yang memenuhi syarat untuk mendaftar, dengan cara mengunggah berkas pendaftaran secara online di website Diktis Kemenag. Sebagai tambahan motivasi, bisa kuceritakan betapa serunya program ini.

 

Pertama, meskipun mensyaratkan mampu berbahasa Inggris, tapi program ini tidak mewajibkan pendaftar sudah sangat lancar berbicara dan menulis dalam bahasa ini, maka, teman-teman yang kemampuannya minimalis seperti aku tetap berkesempatan lolos. Nah, untuk meningkatkan kemampuan Bahasa ini, PIES menyediakan beasiswa pelatihan Bahasa di lembaga Indonesian Australia Language Foundation (IALF) Jakarta, plus biaya hidup di sana. Kursus di sana amat sangat menyenangkan, karena metodenya cocok untuk orang dewasa yang telat belajar, semua pencapaian diapresiasi dengan baik, fasilitas lengkap, dan dibimbing oleh tutor native speaker. O iya, Sabtu-Minggu dan tanggal merah kursusnya libur, jadi bisa pulang kampung atau jalan-jalan keluar Jakarta.

Kedua, di Canberra, setiap peserta mendapat status sebagai mahasiswa pascasarjana ANU, mendapat hak dan kewajiban yang sama dengan mahasiswa regular, misalnya mendapat ruang belajar yang representative, semacam kantor dengan fasilitas computer layar ganda, lemari, rak, meja kursi, dapur, dan lain-lain, dapat mengakses referensi online yang sangat melimpah, khususnya jurnal internasional, dapat masuk dan pinjam buku di semua perpustakaan milik ANU yang jumlahnya banyak sekali, bisa masuk dan keluar kantor kapanpun tanpa batas waktu, dan disediakan asrama untuk istirahat yang keluar masuknya juga tidak dibatasi jam, sehingga sangat leluasa dan dilengkapi dengan sistem keamanan yang sangat baik.

Ketiga, setiap peserta mendapat layanan akademik berupa workshop peningkatan kemampuan akademik, khususnya menulis ilmiah setiap dua minggu sekali dengan tugas-tugas tertentu yang dibimbing oleh tutor-tutor yang sangat berpengalaman. Setiap dua minggu sekali kami juga mengikuti seminar khusus untuk peserta, untuk presentasi proposal dan hasil penelitian, dan berkesempatan mengikuti seminar mahasiswa S3 lain di luar program ini. Dan yang paling penting, peserta juga diberi pembimbing yang sesuai bidang kajian disertasinya atau artikel jurnal internasional yang akan ditulisnya.

Sungguh luar biasa memiliki pengalaman bimbingan di sini, karena disediakan waktu diskusi yang cukup, diapresiasi capaiannya, diberi referensi yang tepat dan saran-saran keren yang seringkali tidak terpikirkan. Tentu saja pembimbingan ini diharapkan melengkapi dan menguatkan pembimbingan yang sudah diberikan oleh pembimbing di kampus asal.

Keempat, berhubung waktu belajar di kelas relatif singkat, maka peserta memiliki keleluasaan untuk mengatur jadwalnya sendiri untuk membaca, menulis, bimbingan dan mengumpulkan referensi. Leluasa juga untuk mengatur jadwal pribadi, seperti belanja kebutuhan sehari-hari, rekreasi, olah raga, pengajian dan lain-lain. Ini dapat menjadi peluang untuk meningkatkan produktivitas berpikir, sekaligus dapat menjadi ancaman jika terlena dengan acara non akademik. Maklum, godaan untuk jalan-jalan cukup besar, terutama mengunjungi tempat-tempat yang belum dikenal, toko-toko serba murah (opshop), bersepeda keliling danau atau sekedar foto-foto dengan latar yang eksotis.

Kelima, setiap peserta berkesempatan mendapatkan teman, sahabat, relasi dan jaringan yang berskala internasional, baik melalui pergaulan di asrama, di kampus, di konferensi-konferensi ilmiah, di media maupun dalam pergaulan umum. Senang sekali punya teman dari berbagai negara, yang sudah menawari kalau aku berkunjung ke negara mereka, mereka siap bantu. Sangat senang setiap berkenalan dengan siapapun, selalu kami ditanya, “Apa topik riset Anda?”, dan saat itulah kami punya kesempatan untuk mengenalkan pikiran-pikiran kami. Dan sebaliknya, kami juga bertanya, apa bidang yang mereka kaji, apa topik risetnya, apa menariknya, apa hasilnya.

Keenam, program ini memfasilitasi peserta mengikuti temu ilmiah di universitas lain, seperti Monash University, University of Melbourne, University of New South Wales, Western University of Sydney, dan bisa bertambah atau berubah tiap angkatan. Itu artinya, kami mendapat kesempatan untuk menyampaiakn gagasan, sekaligus belanja gagasan dari banyak ilmuwan. Sungguh ini kesempatan yang mahal dan tak dapat disetarakan dengan sejumlah uang.

Ketujuh, setiap peserta berkesempatan menjadi warga pendatang di Canberra dan berorganisasi dengan sesama pendatang, baik yang bersifat sosial, budaya maupun keagamaan. Cukup banyak pilihan komunitas yang dapat diikutsertai, misalnya komunitas pengajian, komunitas olahraga, seni, dan tentu saja komunitas WNI yang secara temporer dapat berkumpul di Keduataan Besar RI, merayakan keragaman sebagai anak bangsa yang sedang merantau, misalnya buka puasa bersama dan upacara hari kemerdekaan.

Kedelapan, setiap peserta berkesempatan menikmati berbagai festival, pertunjukan, pameran yang menarik, yang belum tentu ada di tanah air, seperti festival multikultural yang menamoilkan kebudayaan lintas negara, festival lampu, pameran benda antik, pameran benda bersejarah, upacara militer hari nasional Australia New Zealand, dan lain sebagainya.

Kesembilan, setiap peserta berkesempatan berinteraksi dengan komunitas yang beragam, baik secara ras, agama, maupun kebudayaan. Sungguh menarik pengalaman menjadi minoritas, harus berdamai dan berjuang dengan minimnya fasilitas, misalnya shalat di area parkir karena tidak ada mushola di tempat umum, namun yang lebih penting dapat untuk mengasah kepekaan sosial terhadap kaum minoritas lainnya.

Kesepuluh, setiap peserta dapat libur di tengah program dalam rangka merayakan sebagian puasa dan lebaran di tanah air, dan difasilitasi biaya perjalanan yang memadai.

Kesebelas, setiap peserta mendapat uang saku yang cukup untuk membayar asrama, kuliah, hidup sehari-hari, dan menabung. Alumni program ini ada yang tabungan sisa biaya hidupnya dapat dibelikan benda-benda impiannya atau melakukan perjalanan berbiaya tinggi.

Sangat menarik bukan?


Kok yang disebutkan cuma menariknya? Apa donk yang tidak menarik….?


Tidak ada yang tidak menarik, menurutku. Kalaupun ada rindu yang mendera pada orang-orang terkasih, sepanjang kita punya komitmen, aku kira tidak akan menjadi masalah serius. Masalah cuaca dan kulit kasar ada juga, tapi aku kira bukan hal yang menghalangi tercapainya tujuan.


Demikian sementara sebelas sisi menarik PIES, sengaja sebelas karena sedang musim Piala Dunia di mana banyak kesebelasan sedang berjuang untuk jadi juara dunia. Selamat mendaftar, dan temukan sendiri keseruan berikutnya. Many thanks for Pak Greg Fealy and Bu Sally White for this opportunity…


O iya, hampir lupa, hasil yang diharapkan dari program ini adalah karya tulis berupa buku kumpulan artikel semua peserta, artikel untuk disubmit ke jurnal internasional, dan draf disertasi yang siap uji atau buku disertasi.


Infi selengkapnya, klik: www.diktis.kemenag.go.id


Foto diatas adalah bukti kegembiraan berlibur lebaran sambil menunggu jadwal keberangkatan untuk episode kedua.
 

Contact us:

©2020 BY PIES