Congratulations to Prof. Dr H Masnun Tahir

On 1 March 2018, a PIES alumni, Masnun Tahir, was appointed Professor of Islamic Civil Law (Ilmu Hukum Perdata Islam) in the Sharia Faculty of the State Islamic University (UIN) Mataram. He was sworn in at a special open session of the University Senate on 29 March. Prof Dr Masnun was part of the second PIES group who participated in the program in 2008-09. He has had an illustrious career since leaving the program, alongside producing publications of the highest academic quality. In October 2017, Prof Dr Masnun was appointed to the position of Vice Rector 1, responsible for academic and institutional development for the 2017-2021 period. We congratulate Prof Dr Masnun on his achievements and wish him all the best for a continued successful academic career.

Prof Dr Masnun Tahir (right) with the Rector of UIN Mataram, Prof Dr H Mutawali (left)

Program PIES; Sebuah Refleksi Titik Balik.

Asliah Zainal

Goresan pena yang dimulai dengan judul tersebut rasanya tidak terlalu berlebihan. Program PIES (Partnership in Islamic Education Scholarships) yang pernah diikuti pada tahun 2011 (Angkatan kedua) bagi saya adalah titik balik bagi pencapaian-pencapaian dalam perjalanan karir dan pekerjaan. PIES telah merubah banyak hal, baik orientasi, cara pandang, maupun cara pikir ke depan. Yang paling penting adalah bagaimana memantaskan diri agar layak berkolaborasi bahkan berkompetisi dengan yang lain. Dengan tidak bermaksud mengabaikan kontribusi hal lain sepanjang sejarah hidup, catatan kecil ini tidak sedang mengagung-agungkan program PIES yang memang berpengaruh secara signifikan. Secuil goresan ini adalah refleksi dari pengalaman secara jujur tentang bagaimana program ini menjadi tongkat estafet pemicu dan pemacu bagi pencapaian-pencapaian berikutnya.

Pemicu dan pemacu terbesar dari PIES adalah bagaimana agar menjadi produktif dalam karir akademik dan pekerjaan. Saat mengikuti program PIES, saya belajar banyak bagaimana status sebagai pembelajar adalah status yang sangat bermartabat (dan memang seharusnya seperti itu). Kebermartabatannya bukan karena jabatan struktural dalam sebuah lembaga pendidikan atau asosiasi keilmuan, tetapi produktivitasnya dalam menulis dan sensitivitas serta inovasinya dalam menciptakan iklim akademik bagi diri dan lingkungan sekitarnya. Saat ini saya diberikan amanah sebagai Kepala Pusat Peneltian dan Penerbitan LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) IAIN Kendari sejak tahun 2015. Saya tidak tahu mengapa pimpinan mempercayakan pekerjaan tersebut kepad saya. Saya  bukanlah siapa-siapa dan sedang menyelesaikan studi pula ketika itu (saya lulus program doktor dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada Yogyakarta akhir Tahun 2015). Program PIES yang saya ikuti selama setahun di Australia untuk mensupport riset disertasi saya, menuntun bagaimana memanage waktu secara proporsional dan berkualitas, memanfaatkan peluang semaksimal mungkin, dan tidak membiarkan diri terlena untuk hal-hal yang tak perlu, tanpa harus kehilangan waktu santai dan bersenang-senang. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika dipercaya sebagai kepala pusat. Tanggung jawab tersebut saya usahakan tidak membelenggu passion agar tetap melakukan riset sesuai interest dan publikasi dalam bentuk lokakarya/seminar/konferensi internasional dalam berbagai topik yang relevan. Saya percaya bahwa dalam dunia kampus, produktivitas dan prestasi akademik merupakan hal yang niscaya.

Menangani publikasi adalah bidang lain di kampus yang juga menjadi tanggung jawab saya, maka selama tiga tahun terakhir terdapat tiga dari delapan jurnal kampus yang telah terindeks DOAJ dan tahun ini sedang dipersiapkan untuk akreditasi. Inisiasi lainnya adalah pendirian Sentra HKI yang dapat menjadi wadah bagi rekan-rekan dosen agar tidak menghasilkan penelitian yang hanya berujung pada laporan yang menggunung dan menggudang, tetapi juga menguatnya otoritas keilmuan dosen secara lebih luas. Kerjasama dibidang riset dengan berbagai pihak juga dilakukan terkait dengan isu-isu aktual dan nasional, seperti isu-isu radikalisme dan deradikalisasi, Islam lokal di Sulawesi Tenggara, masyarakat marginal dan isu lain yang strategis. Begitu pula halnya dengan kolaborasi publikasi dengan peneliti/dosen dari berbagai perguruan tinggi lain terus dilakukan.

Kerja struktural mestinya tidaklah boleh menggerus passion untuk meneliti dan menulis. Akhir tahun 2017, buku saya dengan judul “Menjaga Adat menguatkan Agama; Katoba dan Identitas Muslim Muna” diterbitkan oleh Deepublish, Yogyakarta. Satu kebanggaan akan buku tersebut sebab diberi kata pengantar oleh Prof. Heddy Shri Ahimsa-Putra (terima kasih yang sedalam-dalamnya untuk beliau). Bersama kawan-kawan juga menulis dan diterbitkan dalam buku diantaranya adalah “Islam and Local Wisdom” (Deepublish, Yogyakarta, 2017); “Problematika pemikiran Islam Kontemporer“ (Maghza Pustaka, Yogyakarta, 2013); “100 Orang Indonesia menulis tentang Papua” (Interfidei, Yogyakarta, 2013). Saat ini saya sedang mempersiapkan draft naskah untuk buku kedua yang rencananya akan terbit pertengahan tahun ini. Sebagaimana bidang ilmu yang saya tekuni, riset saya tidak terlepas dari Antropologi dengan pendekatan berbagai disiplin ilmu. Seperti pendekatan antropologi sejarah politik ketika menulis tentang “Jejak Demoratisasi dalam Kerajaan Muna masa Lampau” (2015) yang dimuat dalam Jurnal Al Qalam (http://jurnalalqalam.or.id/index.php/Alqalam/article/view/291)

Tulisan dengan menggunakan pendekatan Antropologi politik dengan judul “Politik Berjenis Kelamin Laki-Laki (Keterwakilan Perempuan di Lembaga Legislatif Sulawesi Tenggara)” (2016) dimuat dalam jurnal Al Izzah (http://ejournal.iainkendari.ac.id/index.php/al-izzah/article/view/325). Tulisan lain dengan pendekatan Antropologi feminisme berjudul “Bias Potret Perempuan Muna dalam Ritual Life-Cycle” (2016) dimuat dalam proceeding Konferensi Jurnal perempuan (www.jurnalperempuan.org/uploads/1/2/2/0/12201443/prosiding-final.pdf) Aisyiah di Muna; Negosiasi Dakwah dan Politik” dimuat dalam jurnal Dakwah (http://ejournal.uin-suka.ac.id/dakwah/jurnal-dakwah/article/view/297)

Berbagai tulisan juga dikirimkan dalam seminar/konferensi internasional diantaranya adalah “Viktimisasi Sepotong Kain; Studi Kasus Mahasiswi Bercadar di IAIN Kendari” yang disampaikan dalam Konferensi Pengetahuan dari Perempuan III, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, 2017; “Da’wah in Socio-Religious Engineering Perspective; Study of Independent Santri for Nomad Children in Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta” dalam International Dakwah Conference (IDACON), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2017; “Magic Smart Phone; Mendekatkan yang Jauh Menjauhkan yang Dekat” dalam International Conference on Humanity and Society, Riau, 2017; “Pseudo-Powers; The Position Of Women In Traditional Marriage Of Tolaki People Of Southeast Sulawesi” dalam The 2rd International Conference on Gender Equality and Ecological Justice, Salatiga, 2017; a’Reproduksi Identitas Muslim Munaa”. dalam Annual International Conference on Islamic Studies, IAIN Raden Intan Bandar Lampung, 2016; “Negotiation on Religious and Cultural Identities in Youth Tradition in Southeast Sulawesi” dalam International Conference on Psychology, Yogyakarta, 2016. Berbagai konferensi internasional ke luar negeri juga diikuti diantaranya adalah The 4th International Conference on Islam and Higher Education ICIHE, Kuala Lumpur, 2016; Kuala Lumpur International Islamic Studies and Civilizations Conference, Malasyia, 2016. Selain itu, aktif juga menulis di majalah dan bulletin lokal serta harian lokal Sulawesi Tenggara.

Pengalaman ini tentu saja bukanlah pencapaian yang patut dibanggakan. Namun bagi saya prestasi bukanlah hasil tetapi proses; bagaimana mengalami dan menikmati proses, bagaimana belajar dan membelajarkan diri serta orang lain dari proses itu sendiri. Proses itu telah dimulai sejak program PIES. Dulu saya bukanlah siapa-siapa, sekarang tetap bukanlah siapa-siapa, dan nantipun barangkali tetaplah bukan siapa-siapa.Namun bukan siapa-siapa adalah lecutan untuk terus memantaskan diri agar lebih baik dan PIES telah membuka jalan itu.

Salam hangat dari Bumi Anoa

Asliah Zainal

Asliah presenting her paper to the Centre for Indonesian Law, Islam and Society (CILIS) postgraduate conference at the University of Melbourne Law School in 2011

Contact us:

©2020 BY PIES